Arip datang dengan gugup ke rumah pacarnya, Akira, untuk pertama kalinya. Ia membawa sebungkus kue favorit Akira dan mengenakan kemeja terbaik yang ia punya. Akira menyambutnya dengan senyum hangat di depan pintu, lalu mengajaknya masuk ke ruang tamu. Di sana, Arip bertemu dengan Emika Shirakami—adik perempuan Akira—yang sedang duduk membaca buku. Begitu pandangan mereka bertemu, waktu seolah berhenti. Emika bukan hanya cantik; ada ketenangan dan misteri di matanya yang membuat Arip terdiam sejenak, lebih lama dari seharusnya. Ia cepat-cepat mengalihkan pandangan, mencoba menepis rasa aneh yang tiba-tiba muncul.
Namun selama kunjungan itu, bayangan Emika terus muncul di benaknya. Ia tersenyum setiap kali Emika tertawa pelan, mencuri pandang saat gadis itu menyajikan teh. Hati Arip bergejolak, dilanda perasaan bersalah tapi juga penasaran. Setelah pulang, ia duduk lama di kamarnya, mencoba memahami apa yang terjadi. Ia tahu ini salah—Akira adalah pacarnya, seseorang yang tulus mencintainya—tapi kenapa justru Emika yang memenuhi pikirannya? Perasaan itu mulai tumbuh diam-diam, dan Arip sadar, hidupnya mungkin akan segera menjadi jauh lebih rumit daripada yang pernah ia bayangkan.






